Halaman Utama
Mengenal Idrisiyyah
Kumpulan Artikel
Kumpulan Ceramah
Informasi
Galeri Foto
 
Sekretariat
Jl. Batutulis XIV No.5
Juanda III - Jakarta Pusat
Indonesia
 
shilah@al-idrisiyyah.com
Berita Terkini
TAQWA, Tangga Pencapaian Akhir Puasa
25 Agustus 2009 [09:00]
Sesungguhnya Agama ini agama kalian, agama yang satu !
12 Agustus 2009 [16:15]
KEPEMIMPINAN ADALAH ABSOLUT
11 Agustus 2009 [14:45]
Antara Bacaan Cepat dan Lambat
11 Agustus 2009 [14:45]
 

ISLAM RAHMAT UNTUK SELURUH UMAT MANUSIA TIDAK HANYA UNTUK UMAT ISLAM SEMATA

 

ISLAM ADALAH SISTEM KESELAMATAN DUNIA DAN AKHIRAT

 

ISLAM MEMBERIKAN KEMERDEKAAN DAN KEBEBASAN UNTUK UMAT MANUSIA

 

CADAR BUSANA UNTUK MEMBENTENGI IMAN DAN ISLAM BUKAN PENGHALANG DAN PEMBELENGGUAN

 

ISLAM SISTEM YANG DIBANGUN ALLAH SESUAI DENGAN FITRAH MANUSIA

 

ISLAM MELARANG SEMUA BENTUK TEROR DAN KEKERASAN

 

MANUSIA KHALIFAH TUHAN DI MUKA BUMI DAN BERTANGGUNG JAWAB UNTUK MEMAKMURKANNYA

 

DEMOKRASI ADALAH KOMITMEN BERSAMA SEBAGAI ANAK BANGSA

 

KONSTITUSI ADALAH KESEPAKATAN BERSAMA YANG WAJIB DITAATI

 

MANDATARIS ILAHIYYAH TERDIRI DARI PARA NABI DAN PEWARISNYA

 

ISLAM ADALAH BIROKRASI ILAHIYYAH DAN SETIAP ZAMAN ADA MANDATARISNYA

 

KEMERDEKAAN INDONESIA ADALAH BERKAT RAHMAT ALLAH SWT DAN PERJUANGAN SEMUA KOMPONEN BANGSA (PEMBUKAAN UUD’45)

 

ORIENTASI PEMBANGUNAN BANGSA HARUS MENGUTAMAKAN PERBAIKAN MORAL BANGSA, KEADILAN SOSIAL DAN PEMERATAAN

 

VISI PEMBANGUNAN NEGARA ADALAH MENCAPAI KONDISI BALDATUN THAYYIBATUN WA RABBUN GHAFUR

 

PEMERINTAH DAN RAKYAT HARUS PADA POSISI SEBAGAI PEMIMPIN DAN YANG DIPIMPIN

 

DOMOKRASI ADALAH SISTEM IJTIHAD MANUSIA YANG HARUS SELARAS DENGAN KEBIJAKAN ILAHIYYAH

 

KEHIDUPAN ADALAH PERMAINAN, KEDUDUKAN MANUSIA SEBAGAI PEMAIN DAN ALLAH SEBAGAI HAKIM

 

BERILAH KESEMPATAN PEMERINTAH UNTUK MEMBENAHI NEGARA PADA SETIAP PERIODE 5 TAHUN

 

ISLAM BUKAN HANYA AGAMA UNIVERSAL (DUNIA) TAPI AGAMA ETERNAL (ABADI)

 

AL-IDRISIYYAH SIAP MEMBERIKAN KONTRIBUSI UNTUK BANGSA DAN NEGARA

 

INGATLAH, SEMUA YANG KITA BANGUN DAN KITA USAHAKAN AKAN BINASA (PUNAH)

 

KEJAYAAN DAN KEMENANGAN BUKANLAH TUJUAN PARA NABI DAN PEWARISNYA TAPI YANG MENJADI TUJUAN ADALAH AL-HAQ

 

MARI SELAMATKAN ALAM DENGAN MENGURANGI PEMANASAN GLOBAL

 

YANG IMAN BELUM TENTU KONSISTEN DENGAN KEIMANANNYA, YANG KAFIR BELUM TENTU KONSISTEN DENGAN KEKAFIRANNYA

 

KEMITRAAN ADALAH SOLUSI, OPOSISI ADALAH PENYAKIT SUATU SISTEM KEPEMIMPINAN

 

BUKAN SAATNYA UNTUK TUNTUT-MENUNTUT HAK INDIVIDU DAN GOLONGAN, SEKARANG SAATNYA KITA MEMBERIKAN KONTRIBUSI PADA SATU TITIK KEBIJAKAN

 

TUNTUTAN MENURUNKAN HARGA ADALAH TIPE BANGSA YANG CENGENG BUKAN GAMBARAN BANGSA PEJUANG

 

PEMBERANTASAN KEMISKINAN ADALAH KEBIJAKAN YANG MUSTAHIL, MARI BANGKITKAN KESADARAN YANG MISKIN DAN YANG KAYA UNTUK SALING BERSOSIALISASI DAN BERSINERGI

 

SETELAH NABI MUHAMMAD SAW, TIDAK ADA LAGI NABI !

 

MENGIKUTI KEINGINAN MANUSIA ADALAH RIYA, MENGIKUTI KETENTUAN ALLAH ADALAH TAQWA

 

TAQWA, Tangga Pencapaian Akhir Puasa
Untitled Document

TAQWA, Tangga Pencapaian Akhir Puasa
Percikan Nasehat Asy-Syekh Al-Akbar di bulan Ramadhan

Ramadhan merupakan bulan suci yang menyucikan, meluruhkan berbagai kekotoran jasad dan jiwa. Sejuta keutamaannya membuat orang merasa rugi jika menyia-nyiakan keberadaannya.

Ramadhan dengan berbagai kelebihannya menjadi berharga karena ‘perintah’. Berpuasa menjadi tidak bernilai jika di satu sisi kita ‘mengejar’ keutamaan Ramadhan, namun di sisi lain kita meninggalkan aturan yang telah ditetapkan-Nya.

Seringkali terjadi jika seseorang berpergian jauh (musafir) atau sakit, ia merasa kurang enak (sreg) jika berbuka. Atau merasa kurang afdhal (utama) jika berbuka. Atau merasa berat jika ia mesti membayarnya di lain waktu. Ia merasa rugi jika ‘kehilangan’ puasa ramadhan-nya, tapi ia tidak merasakan kasih sayang Allah telah lenyap dari jiwanya. Ia lebih mengutamakan karunia ramadhan daripada yang menciptakan ramadhan (Allah SwT).

Ramadhan mesti diisi dengan ketundukan dan ketaatan, dan tidak mesti dengan puasa. Apalah arti puasa yang tidak menyambut sifat Rahim Allah kepadanya dengan meninggalkan rukhshah (keringanan) yang Allah berikan kepadanya.

Allah SwT berfirman:

Allah menghendaki kemudahan untukmu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu’. (Q.S. Al-Baqarah: 185)

Rasulullah Saw bersabda:


Sebaik-baik umatku adalah apabila pergi jauh (musafir) dia berbuka puasa dan shalat Qashar”. (HR. Thabrani)


Sesungguhnya Allah mencintai jika kemurahan-kemurahan-Nya diambil sebagaimana Dia mencintai jika fardhu-fardhu-Nya dikerjakan. Sesungguhnya Allah mengutusku untuk menyampaikan agama yang lurus lagi mudah, yakni agama Ibrahim As”. (HR. Ibnu ‘Asakir)


Kerjakanlah yang fardhu, terimalah keringanan (kemurahan-Nya), biarkanlah orang-orang, maka sungguh kamu dipelihara dari gangguan mereka”. (HR. Al-Khathib)

Tujuan puasa adalah meraih nilai-nilai ketaqwaan, bukan semata-mata mencari-cari keutamaan Ramadhan dengan meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslim. Bukanlah dengan adanya ramadhan kita membabi buta menggapai gelimang cahayanya, tapi kita tinggalkan esensi kehambaan kita kepada Allah.

Apabila kewajiban suami istri mesti ditinggalkan dengan alasan mengejar keutamaan Ramadhan, berarti ia belum mengerti nilai ketakwaan sesungguhnya. Misalnya, seorang istri yang menolak ajakan suaminya di bulan Ramadhan karena alasan ingin mengkhatamkan Al-Quran adalah adalah sikap yang amat keliru.

Universitas Ramadhan adalah pelatihan individu dan sosial menuju martabat ketakwaan, yakni membentuk SDM yang bersikap Sami’na wa Atho’na, turut perintah dengan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi apa yang dilarangnya. Jika Ramadhan ini tidak membentuk sikap ketaqwaan, maka gagallah usaha dan jerih payah perjuangan ramadhan yang dilakukannya.

Konsep ketaqwaan sebagai halte terakhir ramadhan bukanlah hanya dilakukan dalam 1 bulan, namun perjalanannya berkelanjutan. Konsep ketaqwaan adalah konsep harian bukanlah bulan ramadhan saja. Firman Allah SwT: ‘Ayyaamam ma’duudaat’, pada hari-hari yang ditentukan (bukan bulan-bulan yang ditentukan).

Buah ramadhan adalah kesabaran. Namun kesabaran itu tidak bernilai jika tidak didasari nilai ketaqwaan. Banyak umat lain selain Islam menyodorkan doktrin kesabaran, namun kesabarannya tiada arti di sisi Allah karena tidak didasari sikap ‘turut perintah’ terhadap konsep keselamatan.

Rasa lapar juga merupakan bagian penderitaan para Nabi dan Shalihin terdahulu yang manfaatnya teramat besar bagi madrasah pembenahan jiwa. Namun keadaan lapar itu juga tidak bearti di sisi Allah jika tidak berpijak pada sikap ‘turut perintah’. Sikap ini menjadi acuan semua ibadah kepada Allah.

Karena sikap turut perintah-lah yang menyebabkan kita menghadap ke kiblat setiap hari. Sikap inilah yang menyebabkan kita mau mencium hajar aswad, mengelilingi bangunan batu (Ka’bah), berlari-lari (Sa’i), melaparkan diri (berpuasa), dan sebagainya.

Saat seseorang kembali ke fitrah (titik nol), dikhawatirkan ia akan kembali lagi ke koordninat minus jiwa karena ia belum mengenal nilai-nilai ketaqwaan, yakni turut perintah. Jika kita mampu berbuat di bulan Ramadhan, mengapa di bulan lainnya tidak?

Betapa banyak orang yang berpuasa yang tidak maraih apa-apa melainkan rasa lapar dan dahaga”, Nabi Saw mengingatkan. Karena ia tidak mampu mempersembahkan nilai ketaqwaan sesudah fitrahnya.