Ikhtisar Profil Al-Idrisiyyah

ASAL NAMA

Nama Al-Idrisiyyah dinisbatkan kepada salah seorang Mursyid Al-Idrisiyyah yang bernama Syekh Ahmad bin Idris Ali al‑Masyisyi al‑Yamlakhi al‑Hasani. (1760 ‑ 1837), salah seorang Mujaddid (Neo Sufisme) yang berasal dari Maroko (Maghribi). Idris, yang kepadanya dinisbatkan nama tarekat ini adalah nama ayah dari pendirinya.

Syekh Ahmad bin Idris dikenal sebagai sosok Ulama yang berhasil memadukan dua aspek lahiri (syari’at) dan batini (hakikat). Ia juga dikenal sebagai  pembaharu dalam dunia  tasawuf  dari penyelewengan kaum kebatinan seperti tahayul, khurafat, dll.

 

MANHAJ

Setelah umat kehilangan figur sentral yang menjadi uswatun hasanah dalam urusan agama, sebagian besar mereka harus mempelajari dan memahami ajaran agamanya melalui formula-formula disiplin ilmu yang telah ditetapkan para ulama sesuai dengan keahlian dan pembidangannya baik ilmu tauhid, fikih maupun tasawuf. Produk-produk tersebut dihasilkan oleh para ulama melalui manhaj yang dikembangkan yang satu sama lain memilki persamaan prinsip sekaligus perbedaannya. Seiring dengan perkembangan pemikiran umat dari satu generasi ke generasi berikutnya bahkan sampai hari ini manhaj pun semakin beragam pula, hal ini kalau dikelola dengan baik dengan mengevaluasi manhaj masing-masing supaya  dipastikan kesahihannya dan saling menghormati  dalam perbedaannya  maka keragaman manhaj akan menjadi aset dan khazanah pemikiran umat.

Tarekat adalah salah satu manhaj yang eksis dan terus berkembang semenjak awal munculnya perkembangan pemikiran umat yaitu ketika memasuki abad kedua hijriyyah. Salah satu prinsip dasar yang paling menonjol dari manhaj ini adalah perpaduan antara ilmu ilmu dzahir (eksoterik) dengan ilmu ilmu bathin (isoterik), sehingga keduanya saling memberikan fungsi dan melengkapi. Salah satu fungsi ilmu dzahir terhadap ilmu bathin untuk memberikan aturan dan batasan (muqayyadah), sedangkan salah satu fungsi ilmu bathin terhadap ilmu dzahir memberikan kekuatan dan energi (muayyadah). Kalau berbicara dalam tataran praktek ibadah pemaduan kedua keilmuan tersebut akan  nampak bagi sesorang dalam menjalankan ibadah harus  terpadu antara fikih dan tasawuf, sehingga kalau yang dilakukan hanya fikih semata maka ia termasuk fasik demikian pula sebaliknya maka ia termasuk zindik (ahli kebatinan di luar Islam).

Al-Idrisiyyah sebagai bagian dari pergerakan Islam, corak manhajnya adalah tarekat dengan mengkombinasikan empat jenis tarekat; pertama: Qadiriyyah yang dinisbatkan kepada Syekh Abdul Qadir Jaelani  (685 H-748 H) dengan keunggulan metode dzikirnya, kedua:  Syadziliyyah yang dinisbatkan kepada Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili (593 H/1197 M) dengan keunggulan konsep zuhudnya sehingga ia terkenal mursyid yang berdakwah dengan kekayaannya yang melimpah, ketiga: Al-Idrisiyyah yang dinisbatkan kepada Syekh Ahmad ibn Idris al-Fasi (1760 – 1837 M) dengan keunggulan pembaharuan dalam dunia tasawuf, dan keempat: Sanusiyyah dinisbatkan kepada Syekh Muhammad ibn Ali as-Sanusi (1787- 1859 M) dengan keunggulan pengorganisasiannya yang mengintegrasikan aspek politik, sosial, ekonomi di tengah kehidupan umat sehingga menjadi pergerakan Islam yang diakui dunia Islam dan ditakuti oleh penjajah dari negara-negara eropa. Keempat mursyid di atas merupakan bagian dari mata rantai (silsilah) keguruan Al-Idrisiyyah.

Manhaj tarekat ini memberikan pembinaan kepada umat dengan menitikberatkan kepada tiga dasar ajaran islam, yaitu:

Tauhid, dengan Aqidah Sahihah yang ajaran pokoknya mentauhidkan Allah Swt dalam tiga dimensinya; Uluhiyyah, Rububiyyah dan Ubudiyyah,

Fikih, yang bersumber kepada Al-Quran, As-Sunah dan Ijtihad al-Ulama dengan menghasilkan produk fikih yang valid dan lebih memberikan kemaslahatan umat.

Tasawuf, dengan mengedepankan tasawuf amali yang berorientasi  kepada; tazkiyyah an-nafs (pembersihan jiwa), tashfiyah al qolb (membangun jiwa yang berkarakter positif  ) dan tahdzib al akhlaq (membangun akhlakul karimah).

Dalam pandangan Al-Idrisiyyah, tarekat di tengah berbagai macam aliran dalam Islam berkedudukan sebagai manhaj (metodologi) dalam menggali dan mengaplikasikan nilai ajaran Islam. Adapun yang menjadi tujuan adalah obyek Islam itu sendiri.

 

LEGALITAS

Tarekat Al-Idrisiyyah termasuk dalam kelompok 40 Tarekat yang mu’tabaroh (diakui) oleh JATMI (Jam’iyyah Ahli Tarekat Mu'tabarah). [Abu Bakar Aceh, Pengantar Ilmu Tarekat (Surakarta: Ramadhani, 1986)]

Secara kelembagaan formal Al-Idrisiyyah sudah tercatat pada Akta notaris yang dilegalisasi Menkumham dengan No: AHU – 3739.AH.01.04. Tahun 2012.

 

AL-IDRISIYYAH DALAM KANCAH GLOBAL

Tarekat Idrisiyyah yang dibawa oleh Syekh Ahmad bin Idris memiliki rentang perjalanan sejarah yang panjang. Sebelum mengasaskan tarekat, beliau telah menimba ilmu dari berbagai tarekat di daerahnya, Fez (Maroko). Rantai keguruan tarekatnya, berhubungan erat dengan nama-nama tokoh besar Ulama Sufi seperti Syekh Abdul Qadir Jaelani (pendiri Tarekat Qadiriyyah) dan Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili (pendiri Tarekat Syadziliyyah). [Lihat lampiran Silsilah Keguruan Al-Idrisiyyah]

Al-Idrisiyyah sebagai salah satu manhaj Tarekat dikembangkan oleh 3 murid besarnya, yaitu:

Syekh Muhammad bin Ali as-Sanusi (1787­-1859 M/1202‑1275 H) yang lebih dikenal dengan nama Sanusi al‑Kabir atau Grand Sanusi. Dia adalah pemimpin Islam yang paling berpengaruh di Afrika Utara pada abad 19.

Syekh Muhammad Al-Mirghani (1793‑1852 M/1208‑1268 H), yang berasal dari Mekkah dan mendirikan Tarekat Mirghaniyah yang berdiri sendiri. Tarekatnya memadukan unsur-unsur ajaran dari tarekat‑tarekat Naqsyabandiyah, Qodiriyah, Sadziliyah, Junaidiyah, dan Tarekat dari kakeknya (Mirghaniyah), sehingga menurut al Mirghani, para muridnya dapat sekaligus memiliki rantai‑rantai dengan silsilah tarekat tersebut.

Syekh Ibrahim ar-Rasyid (1831‑1874/ 1228‑1291) yang berasal dari Sudan. Setelah tahun 1873 Ahmad bin Idris wafat, Ibrahim al‑Rasyid mendirikan Tarekat Rasyidiyah dengan membuka zawiyah‑zawiyahnya di Luxor (Mesir), Dongola (Sudan) dan Libya.

Dengan peran ketiga murid Syekh Ahmad bin Idris ini Al-Idrisiyyah mengalami perkembangan pesat di seluruh penjuru dunia, sehingga melahirkan nama-nama lain, seperti Ahmadiyyah Idrisiyyah, Qadiriyyah Idrisiyyah, Ja’fariyyah Idrisiyyah, Sanusiyyah Idrisiyyah, Dandarawiyyah Idrisiyyah, dan sebagainya.

Al-Idrisiyyah yang berkembang di Indonesia adalah yang berasal dari Tarekat Sanusiyyah. Kepemimpinan Tarekat Sanusiyyah menggerakkan semangat pejuang melawan penjajah Italia selama di Timur Tengah, dan melahirkan tokoh mujahid yang ditakuti penjajah Eropa waktu itu, seperti Ahmad Syarif Sanusi dan Umar Mukhtar (lion of Desert).

 

AL-IDRISIYYAH DI INDONESIA

Tarekat Sanusiyyah dibawa ke Indonesia oleh Asy-Syekh Abdul Fattah tahun 1932. Dia menerimanya dari Syekh Ahmad Syarif as‑Sanusi (1875‑1933) di Jabal Qubais (Mekkah) dan berguru selama 4 tahun. Kemudian dengan beberapa alasan Asy-Syekh Al-Akbar Abdul Fattah mengganti nama tarekatnya menjadi Tarekat Idrisiyyah.

Sejarah masuknya tarekat ini pun diwarnai oleh suasana penjajahan kolonial Belanda dan Jepang. Tahun 1946 Syekh Abdul Fattah membentuk lasykar Hizbullah yang seluruh anggotanya terdiri dari murid-muridnya. Laskar ini selanjutnya dikenal dengan nama kompi istimewa Kota Agung. Al-Idrisiyyah juga ikut membidani lahirnya Badan Musyawarah Alim Ulama (BKAU) wilayah Garut – Tasikmalaya.

Sejak masuknya ke Indonesia pada masa penjajahan, Tarekat ini sudah mengalami 4 kepemimpinan. Saat ini tampuk pimpinan Thariqah dipegang oleh Syekh Muh. Fathurahman, MAg setelah Syekh Akbar M. Daud Dahlan sebagai generasi kepemimpinan ketiga wafat di bulan Juni 2010.