Pontren Fat - Hiyyah Al-Idrisiyyah

SEJARAH SINGKAT PONDOK PESANTREN FAT-HIYYAH AL IDRISIYYAH (FADRIS)

 

   

       I.     Pendahuluan

Indonesia sebagai salah satu negara yang mayoritas penduduknya pemeluk agama Islam, memiliki potensi yang cukup besar dalam mewujudkan suatu tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara yang Mawaddah wa Rahmah. Diantaranya dengan tersebarnya sarana–media  keagamaan yang lebih identik dengan pondok pesantren.

 

Pondok Pesantren Fat-Hiyyah al Idrisiyyah (Fadris) awal berdiri yaitu pada tahun 1932 M,

pada waktu itu asy Syeikh al Akbar Abdul Fattah (alm) pendiri sekaligus pimpinan pertama, ia telah membawa ajarannya dari timur tengah tepatnya Jabal Abi Qubais yang terletak di kota suci Mekkah, yang telah diterimanya dari gurunya yang bernama Syeikh Ahmad Syarif as Sanusi al Khatabi al Hasani (syeikh thariqat idrisiyyah). Kemudian beliau mengembangkan ajarannya di Indonesia tepatnya di Kota Tasikmalaya Jawa Barat.

Adapun inti ajarannya adalah pengembangan ajaran (pemahaman) Tashawwuf dengan menggunakan metode pendekatan Manhaj Nubuwwah (metode Nabi Saw). Maka pada masa khalifah (kepemimpinan) yang kedua yaitu asy Syeikh al Akbar Muhammad Dahlan (alm) (1974 M), beliau mengembangkan sarana pendidikan, dengan mendirikan pendidikan formal yaitu; Madrasah Aliyah (MA) dan Madrasah Tsanawiyyah (MTs), Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA), dan TPA/TKA Fadris;  sarana pendidikan informal Takhasus (pesantren) dibawah naungan Yayasan Al Idrisiyyah. Kemudian dilanjutkan oleh khalifah yang ketiga, yaitu Asy Syeikh al Akbar Muhammad Daud Dahlan (2001 M - sekarang).

II.   Orientasi Visi-Misi Pondok Pesantren Fadris

Pondok pesantren fat-hiyyah al-idrisiyyah, merupakan salah satu lembaga keagamaan yang berorientasi mencetak pribadi muslim yang berwawasan Islami dan berkarakter rahmatan rahmatn lil ‘alamiin. Dalam pembinaan ummat, khususnya jema’ah thariqat Idrisiyyah. asy Syeikh al Akbar Muhammad Daud Dahlan mengembangkan tiga pijakan konsep, yaitu:

pertama, peningkatan kualitas peribadatan (keimanan dan ketaqawaan) dengan mengintensifkan fungsi Mesjid dan Pondok Pesantren sebagai sarana transformasi berbagai kajian khazanah keilmuan,

kedua; peningkatan kualitas pendidikan (baik formal maupun informal) dengan mengembangkan berbagai sarana kelengkapan pendidikan, bahkan dalam meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan, secara periodik beliau telah mengutus beberapa generasi terpilih untuk mengikuti study di berbagai lembaga pendidikan baik di dalam negeri maupun luar negeri.

ketiga; peningkatan kesejahteraan, yaitu dengan mendirikan beberapa sektor di bidang usaha, seperti Koperasi Unit Simpan Pinjam (USP), pengembangan budi daya ikan air tawar, pengembangan unit peternakan sapi perah dan sapi potong, pengembangan unit peternakan Udang di cipatujah dan Tuban Jawa Timur, Unit biro jasa (mini market, wartel dan air mineral). Pembayaran Rekening Listrik dan Telepon secara online. Dengan demikian, eksistensi Pondok Pesantren terutama di tengah-tengah kehidupan masyarakat tidak hanya sebatas sarana Ibadah yang notabene dengan pemenuhan kebutuhan Ukhrawiyyah. Akan tetapi pondok pesantren diharapkan dapat menjadi mitra yang cukup baik bagi masyarakat dan lingkungan dalam pemenuhan berbagai kepentingan.

 

 

STRUKTUR ORGANISASI

Dalam pengembangan program kerja, pondok pesantren Fat-hiyyah al Idrisiyyah (fadris) mendirikan Yayasan al-Idrisiyyah sejak tahun 1974 M sebagai Central Operator, terutama dalam pengambilan berbagai kebijakan baik intern maupun ekstern. Adapun struktur kepengurusan Yayasan Al Idrisiyyah, adalah sebagai berikut;

1.     Syeikh Mursyid Thariqat Al-Idrisiyyah – Pimpinan Pondok Pesantren

2.     Ketua Umum Yayasan Al Idrisiyyah. Sebagai pimpinan dalam memberikan  kebijakan dan keputusan tertinggi pada lembaga.

3.     Ketua Harian

Sebagai penanggung jawab operasional secara universal (keseluruhan)

4.     Bendahara

Mengatur dan meninventarisir siklus anggaran/keuangan (kas) serta aset Yayasan.

5.     Sekretaris

Menginventarisir segala jenis data, agenda, program kerja, surat masuk dan keluar.

6.     Kabid. Peribadatan dan Dakwah,

Didalamnya terdapat (DKM/ Majlis Ta’lim, dan Lembaga Dakwah), berfungsi sebagai fasilitator dalam pengembangan peribadatan, keilmuwan dan ‘amaliyah syar’iyyah.

7.     Kabid. Pendidikan dan Pengembangan SDM

Sebagai wadah/sarana yang memfasilitasi pendidikan dengan skala prioritasnya, yaitu pengembangan serta peningkatan Sumber Daya Manusia yang berwawasan Islami dan Qurani.    

8.     Kabid. Perekonoimian dan Kesejahteraan

Dalam menumbuhkembangkan sektor perokonomian dan kesejahteraan pondok pesantren dan warga masyarakat yang ada di lingkungan sekitar pondok pesantren

9.     Kabid. Umum

Sebagai koordinator secara keseluruhan, dalam;

-    pelayanan kemasyrakatan;

-  biro pernikahan;

sebagai salah satu upaya dalam melahirkan/regenerasi para calon pemimpin   dimasa yang akan datang.

            - inventarisir dan pengembangan aset yayasan.

            - perencanaan pembangunan serta penataan lingkungan.

 

PROGRAM/KEGIATAN

Program kegiatan yang dikembangkan baik sector formal maun informal dikembangkan secara berjenjang, seperti halnya;

1.     Sektor Peribadatan

Dalam pembinaan ummat, khususnya Jema’ah Thariqat Al Idrisiyyah kebijakan Syeikh Al Akbar  (pimpinan pontren) yang diterapkan adalah;

a). jenjang pendek

Dengan menyelenggarakan pengajian mingguan bagi jema’ah al idrisiyyah dan terbuka untuk masyarakat umum, adapun untuk jema’ah/santri yang ada diwilayah Tasikmalaya dan sekitarnya, maka lokasi penyelenggaraannya yaitu di Mesjid Jami’ Al Fattah, Pagendingan Jatihurip Cisayong Tasikmalaya. Dan bagi jema’ah yang ada di wilayah DKI Jakarta, maka lokasi penyelenggaraannya yaitu di Mesjid jami’ Al Fattah Batu Tulis, Jakarta.

b). jangka panjang

yaitu dengan menyelenggarakan Pekan Santri Qini, yaitu dengan maksud untuk memberikan kesempatan kepada para jema’ah yang tersebar dipulau jawa dan sumatera untuk senantiasa mempererat tali ukhuwah (persaudaraan), sebagai media sillaturrahmi murid dengan guru dan murid dengan murid. Yang diselenggarakan dalam tiga periode, yaitu; sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah; sepuluh hari akhir bulan Maulid dan sepuluh hari terakhir pada bulan Rajab. Dengan demikian,


2.     Sektor Pendidikan

Model pendidikan yang dikembangkan pada pondok pesantren Fat-hiyyah al Idrisiyyah (Fadris) yaitu; metode pengajaran salafi (kitab kuning) dan metode pengajaran modern pada lembaga pendidikan formal baik pada tingkat Madrasah Aliyah dan Tsanawiyyah, dengan lebih mengintensifkan berbahasa dalam berkomunikasi terutama bahasa Arab dan bahasa Inggris, serta pengembangan pendidikan kemasyarakatan. Lembaga Pendidikan MDA, TPA/TKA.


3.     Sektor Perekonomian

Eksistensi pondok pesantren fadris, dalam memberikan kontribusi kepada masyarakat luas dan jema’ah/santri thariqat al Idrisyah tidak hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan ukhrawiyyah, akan tetapi Ponpes Fadris mampu memberikan kontribusi/pelayanan yang cukup baik bagi masyarakat dari segi urusan kepentingan duniawiyyah. Yaitu dengan mengembangkan dan meningkatkan volume usaha, seperti halnya Koperasi Unit Simpan Pinjam (USP), pengembangan budi daya ikan air tawar, pengembangan unit peternakan sapi perah dan sapi potong, pengembangan unit peternakan Udang di cipatujah dan Tuban Jawa Timur, Unit biro jasa (mini market, wartel dan air mineral). Pembayaran Rekening Listrik dan Telepon secara online.

 

INTERAKSI PONDOK PESANTREN DENGAN WARGA SEKITAR PONDOK PESANTREN

 

Pada umumnya, setiap pondok pesantren memiliki ciri khas/spesifikasi (ketertentuan) sebagai identitas diri untuk mempermudah dalam mensosialisasikannya pada masyarakat. Baik dari segi disiplin keilmuwan yang ditawarkan, seperti halnya; Pondok Pesantren Tafsir al Qur’an, Tauhid, Nahwu, Shorof, Qiro’at, Tashawwuf, dan sebagainya. Pondok pesantren Fat-hiyyah al Idrisiyyah (fadris) sebagai salah satu pondok pesantren yang memiliki ciri khas yaitu; pengembangan ajaran tashawwuf, yang dikemas dan diimplementasikan melalui metode al Qur’an (targhib wa at tarhib, uswatun hasanah, qishah, amar ma’ruf nahi munkar dsb).

Secara geografis, letak pondok pesantren Fadris cukup strategis berada dijalur lintasan utama (jalan protokol) dan berada ditengah-tengah lingkungan kehidupan masyarakat. Sehingga sangat memudahkan bagi masyarakat untuk melakukan interaksi dan komunikasi dengan pihak pondok pesantren. Begitupun sebaliknya, dari pihak pondok pesantren sendiri tidak menutup diri dan membatasi ruang gerak untuk melakukan interaksi dan komunikasi dengan warga masyarakat dalam pelbagai kepentingan.

Secara umum, eksistensi dan peran aktif pondok pesantren Fat-hiyyah al Idrisiyyah (fadris) mendapat sambutan dan sikap proaktif dari masyarakat yang cukup baik.

 

 

PENUTUP

 

Mudah-mudahan dengan catatan profil ringkas ini, dapat menjadikan acuan serta sebagai bahan evaluatif dalam upaya perbaikan-perbaikan dan peningkatan kualitas pondok pesantren, ditengah-tengah kehidupan masyarakat pada umumnya.

Besar harapan kami, mudah-mudahan segala bentuk aktivitas dan tawakal kita semua senantiasa berada dalam rahmah dan maghfiroh-Nya, amiin.