|
Sabtu, 3 September 2011
Kejujuran di dalam puasa
Nilai-nilai Kejujuran di Dalam Ibadah Shaum
Kejujuran
Jujur
Bulan Ramadhan dan ibadah shaum mengandung begitu banyak hikmah dan nilai-nilai positif di dalamnya. di bulan ramadhan pula pahala-pahala ibadah dilipat gandakan, di bulan ramadhan pintu ampunan dan rahmat di buka selebar-lebarnya. sehingga tak heran jika setiap muslim yang bertaqwa senantiasa menantikan kedatangan bulan ramadhan dan segenap kemuliaannya.
diantara hikmah dan nilai positif di dalam ibadah shaum adalah kejujuran. ibadah shaum mendidik dan mengajarkan kepada kita pentingnya nilai kejujuran, sebab dalam ibadah shaum yang benar-benar mengetahui shaumnya adalah diri kita sendiri dan Allah semata. ketika kita memulai shaum dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari, disitulah kejujuran kita diuji. apakah kita akan menghianati niat puasa kita dengan Allah, atau mempertahankan kejujuran dan keikhlasan di dalam ibadah shaum kita.
ada sebuah kisah kejujuran yang patut kita teladani dari seorang hamba sahaya yang bernama Mubarak, beliau adalah pribadi yang sangat bertaqwa dan jujur. dikisahkan pada masa itu Mubarak bekerja sebagai penjaga kebun delima salah satu saudagar yang kaya raya. setelah beberapa lama menjadi penjaga kebun, suatu hari datanglah sang majikan berkunjung ke kebunnya tersebut untuk mencicipi buah delima. maka, sang majikan pun memerintahkan pada Mubarak untuk memetik beberapa delima yang terbaik di kebun itu.
Mubarak pun bergegas mencari dan memetik buah delima yang dianggapnya terbaik dan paling manis. Namun, ketika tuannya membuka delima itu, ternyata rasanya pahit. Karena itu, ia sangat marah kepadanya seraya berkata, “Saya meminta yang manis, tetapi mengapa kamu berikan yang pahit? Berikan yang manis buat saya!”
Mubarak pun pergi lagi, lalu ia memetik buah delima dari pohon yang berbeda. Ternyata, ketika tuannya membuka delima tersebut, rasanya juga masih pahit sehingga, ia pun semakin marah.
Untuk ketiga kalinya, Mubarak kembali memetik delima untuk tuannya. Namun, lagi-lagi rasanya pahit. Kemudian, tuannya berkata kepada Mubarak, “Apakah kamu tidak bisa membedakan mana yang manis dan mana yang pahit?” Mubarak menjawab, “Tidak”.
Tuannya bertanya dengan penuh keheranan, “Bagaimana bisa demikian?” Dia menjawab, “Karena saya tidak pernah memakan buahnya sehingga saya tidak bisa mengetahui mana yang manis dan mana yang pahit.” Tuannya bertanya, “kenapa kamu tidak memakannya?” Ia menjawab, “Sebab anda belum memberikan izin kepada saya untuk memakannya.”
Tuannya pun merasa heran melihat sikap penjaga kebun tersebut. begitu jujurnya sang hamba sahaya sehingga sekian lama bekerja sebagai penjaga kebun, tidak satupun buah delima berani dia makan karena takut berkhianat kepada sang majikannya.
begitu tingginya nilai kejujuran Mubarak dalam memikul amanah, suatu hal yang patut kita teladani. maka di bulan ramadhan ini kita ambil momentum untuk mengasah nilai kejujuran kita dan mudah-mudahan dengan beribdah shaum, nilai kejujuran kita meningkat sehingga menjadi karakter dalam setiap aktivitas kehidupan kita. Amin
Dari berbagai sumber,
A.K, 02 Ramadhan 1432 H
|