Saya merenung tentang kebiasaan sekelompok orang yang mengeluarkan seluruh hartanya. Mereka adalah orang-orang yang mengaku-ngaku zuhud yang bertawakkal. Ternyata, apa yang mereka lakukan tidaklah diperintahkan oleh syari'at. Hal itu didasarkan atas sabda Rasululllah Saw kepada Ka'ab bin Malik
Kamis, 6 Januari 2011

Keutamaan Mencari Harta

Berdagang
Berdagang
Sumber: Republika.co.id

Saya merenung tentang kebiasaan sekelompok orang yang mengeluarkan seluruh hartanya. Mereka adalah orang-orang yang mengaku-ngaku zuhud yang bertawakkal. Ternyata, apa yang mereka lakukan tidaklah diperintahkan oleh syari'at. Hal itu didasarkan atas sabda Rasululllah Saw kepada Ka'ab bin Malik, 'Tahanlah (jangan keluarkan) semua hartamu dan sabda dia kepada Sa'ad, 'Lebih baik engkau tinggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin dan meminta-minta kepada manusia'.

Jika seseorang yang bodoh mengecam Abu Bakar yang telah menginfaqkan seluruh hartanya tanpa sedikit pun menyisakannya, maka saya akan menjawab bahwa Abu Bakar adalah seorang pedagang dan pribadi yang sangat luas pergaulannya. Hal itu memungkinkannya untuk berhutang kepada sahabat yang lain dan mudah menyambung hidupnya. Saya tidak menyayangkan hal semacam itu. Yang saya sayangkan adalah banyaknya orang yang tidak memiliki kualitas kepribadian seperti Abu Bakar dan hidupnya sangat pas-pasan, atau mungkin seperti Abu Bakar tapi kemudian ia berhenti bekerja, sehingga ia menjadi beban bagi orang lain dan meminta-minta dengan keyakinan bahwa dengan cara itulah ia memperoleh rezeki dari Allah, padahal, hatinya sangat bergantung pada makhluk dan makanannya pun diperoleh dari mereka.

Tatkala diketuk rumahnya, hatinya bergetar dan berkata, 'Nah, rezekiku datang.' Perilaku semacam itu sangatlah tercela bagi orang yang mampu untuk mencari nafkah dan berjuang. Jika tidak mampu, adalah lebih buruk lagi jika ia menghamburkan semua hartanya, karena seluruh jiwa dan kalbunya sangat bergantung pada apa yang ada di tangan manusia. Tentu saja, hal itu dapat mengakibatkan dirinya sangat rendah di mata manusia dan selalu berpura-pura zuhud di mata mereka. Setidaknya, mereka akan saling berebut dengan kaum fakir miskin dan orang-orang terlantar untuk memperoleh zakat.

Salman Al-Farisi pernah memanggul makanan di pundaknya, kemudian dia ditanya oleh seseorang, “Kenapa engkau mesti melakukan itu? Bukankah engkau sahabat Rasululllah?” Salman menjawab, “Ketahuilah, jika jiwamu telah terpenuhi kebutuhannya, dia akan tenang”. Sementara itu, Sufyan ats-Tsauri berkata, “Jika engkau telah berhasil mengumpulkan harta sebulan, itulah saatnya untuk mempertajam ibadah engkau”.

Ketahuilah andaikata seseorang enggan berusaha dan menganggap hal itu adalah cara menempuh hidup zuhud serta berkata, “Aku tak akan makan dan minum, tidak beranjak dari sengatan matahari dan tidak pula menghangatkan badanku”, maka dasar kesepakatan ulama, perbuatannya dianggap maksiat. Demikian pula jika ia melakukan hal-hal tersebut sementara ia mempunyai tanggungan keluarga, lalu berkata, “Aku tidak akan mencari nafkah; aku serahkan sepenuhnya urusan rezeki kepada Tuhannya”, kemudian mereka ditimpa penyakit, maka ia telah berdosa. Rasulullah Saw bersabda, “Adalah suatu dosa jika seseorang menyia-nyiakan orang yang memberinya makan”.

Ketahuilah, keseriusan kita dalam mencari harta akan senantiasa memacu semangat, melapangkan hati, dan memotong seluruh alur keberuntungan kita pada semua makhluk. Tiada lain hal itu disebabkan jiwa yang memiliki tuntutan-tuntutan yang harus dipenuhi. Syariat menggambarkan bahwa jiwa Anda memiliki hak atas Anda dan pada mata Anda pun ada hak untuk Anda.

Perumpamaan perilaku orang-orang yang menempuh kehidupan tanpa harta adalah laksana seekor anjing yang tak pernah tahu siapa yang datang ke rumah mengetuk pintu. Setiap orang yang dilihatnya berjalan, ia akan menggonggong kepadanya. Akan tetapi, tatkala orang itu melemparkan sedikit makanan kepadanya, ia akan terdiam. Yang saya maksudkan dengan keseriusan dalam mencari dunia adalah agar dari dalam diri kita muncul semangat untuk menjalani kehidupan, bukan malah menyerah kepadanya. Tak lebih dari itu. Pahamilah apa yang saya uraikan, karena pemahaman Anda akan hal itu sangatlah penting artinya.

(Diambil dari: Shaidul Khathir, Ibnul Jauzi, Pustaka Maghfirah)

 

AGENDA KEGIATAN

Berita Islami

Web / Blog

Jumlah Pengunjung
Hari ini:137
Minggu ini:1409
Bulan ini:7457
Tahun ini:17116
Total:162763