Agama Allah yang lurus itu bukanlah barang murah yang bisa diperoleh tanpa usaha serius dan perjuangan yang sungguh-sungguh.
Kamis, 29 Desember 2011

Taushiyah Syekh Muhammad Fathurahman, MAg

Hikmah Pagi Wisata Religi

Guru
Guru
Syekh Fathurohman dalam satu kesempatan tausiyah di tasikmlaya

 

Anyer, 25 Desember 2011

Kita terus menghadapi tantangan yang selalu menghalangi pergerakan dalam menempuh perjalanan menuju kepada Allah SWT. Semakin dunia ini modern maka dampak negatifnya semakin besar untuk menghalangi kita dalam menuju Keridhaan-Nya. Dengan demikian setiap pribadi kita sebagai seorang muslim dan muslimat harus mempunyai modal keyakinan yang kuat terhadap agama Allah ini. Sebagaimana Rasulullah Saw diperintahkan untuk menegaskan keyakinan (agama). Karena yang meng-klaim agama atau keyakinan itu begitu banyak. Bahkan kepercayaan kepada agama itu banyak didominasi oleh kepercayaan-kepercayaan yang telah mengalami banyak penyimpangan di dalamnya.

Firman Allah SWT:

وَأَنَّ هٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ {الأنعام: ١٥٣ }

Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya.

Rasulullah Saw diperintahkan agar menegaskan identitas (jalan) yang dibawa Beliau, bahwa Shirothi kebijakanku ini atau yang dibawa olehku ini adalah Mustaqiimaa (yang tegak atau lurus). Falaa tattabi'us subula, kemudian diperintahkan (dihimbau) kepada umat, maka kalian jangan mengikuti jalan – jalan – jalan! Ketika itu Rasulullah Muhammad Saw membawa tongkat, dengannya digarislah garis-garis lurus di tanah, sambil menegaskan Hadza Shiroothii mustaqiimaa. Mohon perhatikan wahai para sahabat, garis lurus ini adalah jalanku!' Kemudian Beliau membuat garis-garis lain yang acak-acakan selain daripada garis lurus tadi, sambil menegaskan Falaa tattabi'us subula, wahai umatku jangan mengikuti jalan-jalan yang semrawut, acak2an, yang tidak jelas arah (kebijakan)nya atau keyakinan yang tidak berdasarkan ilmu yang pasti. Fatafarroqo bikum 'an sabiilih (kalau kalian memilih jalan-jalan yang tidak jelas (semrawut) tadi, kalian akan semakin jauh dari jalanku yang lurus ini).

14 abad yang lalu saja sudah banyak jalan-jalan (السبل) yang mengklaim sebagai 'Jalan Allah', 'Agama Allah', yang menganggap kepercayaannya akan mendatangkan kebahagiaan dan keselamatan (syurga). Inilah ujian kepercayaan bagi umat manusia. Dengan banyaknya kepercayaan, dituntut setiap individu (pribadi) untuk mencari  Shirothi Mustaqiimaa.

Agama Allah yang sesungguhnya itu bukanlah barang murahan (obralan), mudah ditemukan, tiba-tiba datang dengan sendirinya. Agama, keyakinan, jalan Allah yang kokoh itu adalah jalan yang mesti dicari oleh setiap manusia. Pencariannya dengan sungguh-sungguh, membutuhkan usaha yang keras (maksimal), perjuangan (mujahadah) dan pengorbanan.

Bukanlah Agama Allah yang disampaikan kepada umat melainkan lewat orang-orang pilihan. Merekalah para Nabi dan Rasul Allah, dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad Saw. Mereka adalah orang-orang pilihan yang layak untuk menyampaikan amanah besar, termasuk sosok pilihan di setiap zaman.

Usaha yang dilakukan oleh para Nabi dan Rasul mencari Tuhan, Agama yang lurus bukanlah pekerjaan yang mudah, tapi membutuhkan keseriusan bahkan ditebus dengan pengorbanan yang banyak. Maka setelah hamba-hamba membersihkan hatinya, merasa butuh dengan nilai-nilai Haq (kebenaran), mampu menekan gejolak hawa nafsunya, kepentingan dirinya, keluarganya, pada batas tertentumenjadikan Allah ridha untuk menurunkan (mendatangkan) nilai-nilai kebenaran kepada mereka.

Agama yang diterima para Nabi dan Rasul bersifat mutlak, obyektif, tidak pernah bercampur dengan kepentingan dirinya, keluarganya atau kelompok (kaum)nya. Maka mereka diperintahkan untuk menyampaikan 'Wamaa 'alaynaa illal balaaghul mubiin' [Kami para Nabi dan Rasul tugasnya hanya satu, yakni menyampaikan Risalah Allah yang mulia, tanpa dicampuri (terkontaminasi) kepentingan-kepentingan manusia]. Q.S. Yasin: 17

Laa Ilaaha Illallaah Muhammadur Rosuulullaah Shollallaahu 'alayhi wa Sallam.

Demikian pula setelah rangkaian para Nabi dan Rasul terhenti (Khataman Nabiyyin), ada orang-orang yang melanjutkan estafet kepemimpinan Nabi (Al-'Ulamaa' Warotsatul Anbiyaa'), atau dalam Surat Al-Kahfi disebut sebagai Waliyyan Mursyidaa. Mereka (kelompok Mursyid) yang telah melakukan usaha-usaha keras dan panjang dalam mencari kebenaran, ditempa oleh Mursyid-mursyid sebelumnya, lalu Allah dan Rasul-Nya ridha untuk memilihnya, memberikan hikmah-hikmah Al-Quran sebagai petunjuk kehidupan di setiap zaman.

Apa yang diterima mereka baik para Nabi maupun Al-'Ulama merupakan nilai-nilai kebenaran yang mutlak dan tidak akan terkontaminasi oleh kepentingan diri, keluarga atau golongan (kelompok)nya.

Demikian umat muslimin dan muslimat, hadapkan diri kepada Allah dengan sikap yang lurus, sungguh-sungguh, serius! Yang dibawa adalah bukan kepentingan kelompok atau lainnya, tapi Risalah Allah, melanjutkan kepemimpinan para Nabi dan Rasul Allah.

Sikap kita adalah Fa aqim wajhaka lid diina haniifaa (Maka hadapkan diri kita dengan sikap yang hanif (bersih dan lurus). [Q.S. Ar-Rum: 30]

Bagi jama'ah yang ingin mengikuti (mendapatkan) bimbingan di Idrisiyyah ini, luruskan motivasi (niat) semata-mata ingin mendapatkan bimbingan yang paripurna, menggapai nilai-nilai kebenaran, ridha Allah di dunia dan akhirat.

Laa Ilaaha Illallaah Muhammadur Rosuulullaah Shollallaahu 'alayhi wa Sallam.

Kepercayaan kepada Allah itu membutuhkan pengorbanan, diawali dengan masa pencarian, kemudian setelah menemukan, dituntut istiqamah dalam menimba ilmu dan mengamalkannya. Inilah modal yang mesti ditempuh, mumpung Allah memberikan kesempatan terbaik bagi kita.

Agama Allah itu diturunkan untuk menyempurnakan agama secara keseluruhan, wa atmamtu 'alaykum ni'matii wa rodhiitu lakumul islaama diinaa [Q.S. Al-Maidah: 3]. Islam diturunkan untuk menggenapkan (menyempuranakan) seluruh karunia Allah yang diturunkan kepada seluruh umat manusia. Agama inilah agama yang lurus yang mesti ditempuh untuk menggapai Ridha Allah. Tanpa menggunakan jalan (agama) Allah maka usaha manusia bagaimanapun hebat konsepnya, atas pemikiran atau metodenya sendiri, akan menjadi sia-sia di akhirat kelak.

Bagi kita, marilah kita yakinkan seyakin-yakinnya bahwa Dinul Islam ini adalah satu-satunya jalan yang pernah ditegaskan Rasul dalam Al-Quran, yang harus kita tempuh (jalani). Keyakinan ini harus terus ditumbuhkembangkan.

Ada 4 tahapan dalam keimanan (kepercayaan), yakni  yaqin, 'ilmul yaqin, aynul yaqin, haqqul yaqiin. Percaya kepada agama Allah mengandung arti di balik agama ini terdapat karunia yang tidak terhingga, suatu rahmat yang datang di luar kemampuan kita. Kemarin kita mendengar alunan musik sambil menyambungkan hati dan pikiran kepada Allah, atas barakah Guru-guru kita terdahulu, khususnya Nabi Khidhir As. Allah bukakan kepada hati kepada orang-orang yang senantiasa membersihkan hati dan pikirannya. Para malaikat diutus tatanazzalu 'alayhimul malaa-ikah, [Q.S. Fush-shilat: 30] maka getaran-getaran hati mereka akan dirasakan oleh orang-orang yang meningkat keimanannya, termasuk hadirnya ruhani-ruhani yang disucikan.

Dalam kitab Ar-Ruh, Ibnul Qayyim al-Jauziyyah disebutkan bahwa ruhani para Nabi dan Rasul, Al-Ulama dan para Wali Allah akan senantiasa menghampiri, menghidupkan majelis-majelis ilmu dan dzikir. Di manapun terdapat majelis-majelis yang mengagungkan Nama Allah Ta'ala, mereka ingin terlibat, menyaksikan, betapa mahalnya majelis ilmu dan dzikir, mejlis yang mampu membukakan hati untuk merasakan Keagungan dan Keindahan Allah SWT.

Laa Ilaaha Illallaah Muhammadur Rosuulullaah Shollallaahu 'alayhi wa Sallam.

Semakin kita merasakan bahwa di balik kita mempelajari dan mengamalkan Agama Allah, maka muncul lagi karunia demi karunia yang tidak terbatas dirasakan oleh hati (ruh) kita. Jauh lebih indah daripada permainan-permainan yang dibangun oleh manusia di dunia ini. Kalau kita rasakan, ada karunia ruh (spiritual), buah keimanan dan ketundukan kepada Allah dan petugas-Nya, maka keimanan kita akan berkembang, tidak cukup dengan percaya, ingin terus dibuktikan. Maka akan sampai kepada Haqqul Yaqin, keyakinan itu menjadi indah, manis (nikmat). Yang tadinya terasa pahit. Jika sebelumnya kita merasa pahit untuk menghadiri pengajian maka akan terasa manis. Demikian jika kita diajak untuk ber-infaq fii Sabilillah yakni membebaskan tanah untuk kepentingan Allah dan umat manusia serta orang-orang yang beriman, akan terasa manis. Padahal Kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah.

Maka Allah uji atas harta yang dititipkan kepada kita. Secara lahiriyyah kita yang berusaha keras atau membanting tulang untuk mendapatkannya, tapi kita mesti mengingat bahwa itu semua karunia dari Allah. Allah meminta harta kita, yang akan dikembalikan untuk kita sendiri.

Hadirin, apakah wakaf yang kita berikan untuk diri kita atau untuk Allah?

Pondok pesantren kita, dengan adanya pengembangan organisasi, manajemen, SDM-nya, baik lewat divisi dakwah, pendidikan atau ekonomi, berharap akan menjadi Madinah (pusat) yang mengaktualisasikan nilai-nilai kehidupan Islami sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya, sebuah kampung percntohan yang menghidupkan ajaran Agama Allah, dan menjadi rahmat bagi alam semesta.

Inilah PR bagi kita semua, Shadaqah berarti membenarkan Allah dan Rasul-Nya. Jariyyah berarti mengalir. Ketika kita sudah berada di alam barzakh (kubur) dan tidak bisa ibadah lagi, tapi harta yang kita keluarkan sebagai shadaqah jariyyah ketika hidup akan terus mengalirkan pundi-pundi pahala. Meski kita dilanda kesempitan ekonomi, banyak kebutuhan pribadi maupun urusan keluarga, namun kita berusaha sisihkan harta kita untuk kepentingan Wakaf, maka Allah akan memperhatikan niat dan kesungguhan kita yang terbatas ini, sebagaimana langkah perjuangan Rasulullah bersama para sahabat hingga berurai air mata dan darah dalam menegakkan Agama Allah. Mereka tebus dengan harta hingga nyawanya. Mereka bershaf-shaf (berbaris), bahu membahu (bersatu), menghormati dan menghargai (tolong menolong), menjunjung Agama Allah yang mulia, supaya Agama Allah terwujud dalam tatanan kehidupan, walaupun tantangan dan ujian tidak akan pernah berhenti. Semakin besar usaha yang dilakukan untuk menegakkan Agama Allah akan semakin besar pula tantangannya.

Allah mengetahuai upaya kita meski kondisi kita amat terbatas. Allah, Rasul dan Guru mengajak untuk menginvestasikan harta kita untuk kehidupan kita yang kekal abadi.

Hadirin, tempat yang akan dibebaskan menjadi Wakaf adalah tempat yang istimewa. Banyak masjid diperindah di akhir zaman ini (sebagaimana isyarat Rasul), biayanya besar, arsiteknya demikian megah agar diketahui orang banyak. Tapi banyak daripada masjid itu khalifun 'an dzikrillah, sunyi dari mengingat (dzikir) kepada Allah, sunyi dari berjama'ah atau taklim!

Itulah isyarat Rasul 14 abad yang lalu, bangga membangun, mengukir, memperindah masjid tapi lupa menghidupkannya.

Insya Allah, di tempat wakaf kita nanti akan menjadi pusat dan sampel (contoh) pergerakan ibadah, ekonomi. Aktivitas pendidikan santri dari pagi hingga malam hari terus berjalan, masjid kita konsisten menggelorakan Asma Allah!

Fii buyuutin adzinallaah an turfa'a wayadzkurus mallaah.

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ {النور: ٣٦ }

Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.

Inilah aktivitas ibadah di pondok pesantren kita. Hingga hari kiamat, puluhan atau ratusan tahun mendatang, pahala wakaf kita tiada henti terus mengalir, ajrun ghoyro mamnuun, meski jasad kita sudah terbujur di dalam tanah.

Laa Ilaaha Illallaah Muhammadur Rosuulullaah Shollallaahu 'alayhi wa Sallam.

Untuk mendapatkan haqqul yaqin tidak cukup dengan sekedar percaya atau yakin saja, tapi mesti dengan upaya yang sungguh-sungguh. Contoh, jika kita melihat gelas berwarna merah yang berisi air minum, maka haqqul yaqin bahwa isinya memang benar air itu didapat setelah meminumnya. Yang melihatnya yakin bahwa air minum itu adalah bukan racun, setelah ia menyaksikan peminum tidak apa-apa. Tapi bagi yang merasakannya akan meyakina lebih daripada itu. Inilah yang disebut Haqqul Yaqin, karena ia merasakan.

Mari kita tingkatkan keimanan kita menjadi Haqqul Yaqin, sehingga iman itu begitu manis dirasakan. Di balik perintah Allah itu ternyata ada kebaikan dari Allah. Harta yang kita wakafkan untuk fasilitas pendidikan di pesantren bukan untuk Allah, tapi untuk kita dan keturunan kita yang akan menikmatinya.

Allah mengedepankan label 'Allah' dengan kalimat 'Jalan Allah', 'Rumah Allah', 'Perniagaan Allah' supaya menjadi daya tarik bagi orang-orang yang beriman. Orang yang beriman tentu menyukai dan betah ketika berada di Rumah Allah, suka berada di Jalan Allah, senang melakukan Perniagaan dengan Allah. Hartanya akan disenangi untuk dijadikan Hak Allah, meski diperuntukkan untuk mereka. Inilah sebuah renungan bahwa Allah senantiasa membangkitkan motivasi kepada kita semua.

Lq, 28 Desember 2011

 

Kesimpulan:

  1. Agama Allah yang lurus itu bukanlah barang murah yang bisa diperoleh tanpa usaha serius dan perjuangan  yang sungguh-sungguh.
  2. Yang membawa Ajaran Allah adalah sosok pilihan Allah, yang tidak memanfaatkan misinya untuk kepentingan diri, keluarga atau golongannya.
  3. Haqqul Yaqin menjadikan keimanan terasa manis.
AGENDA KEGIATAN

Berita Islami

Web / Blog

Jumlah Pengunjung
Hari ini:142
Minggu ini:1414
Bulan ini:7462
Tahun ini:17121
Total:162768